Hasil Tangkapan Ikan Nelayan Kota Sibolga Dikhawatirkan Membusuk, “ES Balok Batangan Sulit Didapat”

fokusliputan.com_Sibolga

Para pelaku industri perikanan, amat tergantung terhadap ketersediaan es batangan sebagai bahan pengawet ikan, baik setelah ditangkap dari laut, maupun saat mengirim dipasarkan ke luar daerah. Pabrik es batangan Balok juga bergantung kepada industri perikanan, sebagai pelanggan dan penyerap utama produksi. 


Dikabarkan, para pengusaha ikan di Kota Sibolga mengaku kesulitan memperoleh Es Balok Batangan. Efeknya, nelayan terancam tak melaut karena mereka khawatir hasil tangkapannya nanti membusuk, beber Reza Andhika Rahmad, Senin (01/04/2019). “Satu minggu terakhir ini pasokan es batang kepada kami di kurangi, kesalnya. 

Pemilik Tangkahan Rasuna Jalan Mojopahit kota Sibolga ini mengakui, bukan hanya pengusaha ikan saja yang mengalami kerugian, semua sektor yang berhubungan dengan perikanan mengalami kerugian akibat kelangkaan es batangan ini.“ Kami terpaksa menunda keberangkatan kapal, akibatnya ABK kami pun menganggur dan jelas mereka harus kami tanggungjawapi kehidupannya. Bukan hanya kami yang memiliki kapal yang menderita kerugian, nelayan dan pengirim ikan juga mengalami dampak kerugian. 

Apabila dipaksakan juga, ikan akan membusuk akibat kekurangan es untuk pendinginnya. Tak hanya itu, Reza menambahkan bahwa selama ini untuk sekali keberangkatan kapalnya setidaknya membutuhkan 200 Batang es balok, tapi sekarang hanya mendapatkan jatah sebanyak 100 batang. Diketahui, harga perbatangnya Rp. 17.500, biasanya dibutuhkan 200 batang. Tapi saat ini, pasokan hanya dapat dari pabrik es sebanyak 100 batang saja. Kami sudah tanyakan langsung ke pemilik pabrik es, alasannya karena tingginya permintaan dan salah seorang pengusaha pabrik es mengaku mesin mereka rusak. 


Manager PT. Duta Tangkas Utama Syafriwal bidang produk es balok menanggapi produksi mereka normal tidak ada kendala. Tetapi akibat keberangkatan kapal yang serentak membuat permintaan atas es balok mengalami kenaikan. “Kami tidak ada menahan es, tetapi permintaan belakangan ini tinggi. Kami biasanya produksi es sebanyak 1.000 batang perhari, tetapi permintaan sudah mencapai 2.000 batang perhari. Akibatnya, kami juga harus mengurangi jumlah dari permintaan konsumen kami,” ungkap Syafriwal yang keberadaan pabriknya berada di kompleks PPN Pondok Batu Sarudik. 

Tetapi pemilik pabrik es balok lainnya Alok yang diketahui sebagai pemilik CV.Yakin dan PT. SMA, PT.TIAM mengakui bahwa selain akibat permintaan es balok yang cukup tinggi juga adanya kerusakan mesin di pabrikan miliknya. “ Permintaan naik belakangan ini Pak. Mungkin lagi musim ikan Pak. Dua pabrik kami juga ada kendala, mesin kami ada kerusakan. Lagi perbaikan. Tetapi dalam beberapa hari ke depan saya rasa sudah bisa kembali produksi,” ujar Alok.