Nasib Pemecah Batu Putus Sekolah Karena Tak Ada Biaya di Tapanuli Tengah

fokusliputan.com_TAPANULI TENGAH 

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, puluhan warga desa kebun pisang, kecamatan badiri Tapanuli Tengah Sumatera Utara terpaksa menggantungkan hidupnya sebagai pemecah batu sungai. Ironisnya, anak-anak mereka yang bersekolah turut serta, bahkan sebahagian terpaksa berhenti sekolah lantaran tidak ada biaya. (15/12/2017)



Material batu terlebih dulu dikumpulkan sebahagian anak, kemudian dipecah dengan menggunakan palu dan karet ban memegang batu yang akan dipecah. Eksploitasi anak sebagai tenaga kerja bantaran sungai galian C ini luput dari perhatian pemerintah. Aktivitas mereka sudah berlangsung belasan tahun.

Bekerja sebagai pemecah batu bukanlah pekerjaan yang mudah, bila pemecah batu ini lalai, jemari tanganpun bisa terluka kena hantaman palu .

Warga, Berliana mengatakan jangan kan sekolah, makan pun terancam, kalau hujan terus tidak ada pendapatan. Kerja sebagai pemecah batu merupakan mata pencaharian disana guna mencukupi kehidupan sehari-hari. Kini harapan mereka agar pemerintah perduli dengan nasib pemecah batu.